Pendidikan atau Sirkus


Pendidikan erat kaitannya dengan ujian, dan konon hidup ini adalah ujian. Hidup adalah ujian, hanya saja peserta ujian – setidaknya saya – tidak mau lulus cepat-cepat.

Pendidikan sekarang dirasa mahal. Contoh dekat rumah saya ada TK yang kalau saya hitung-hitung satu semester itu biayanya mencapai sekitar Rp 25 juta. Buset!!! TK apa macam apa itu, apa yang dipelajari? Uang kuliah saya – kuliah bukan TK ya – hanya Rp 740 ribu saja satu semester, sampai saya lulus, uang 25 juta pasti masih sisa.

Anak-anak sekarang belajar yg susah-susah dulu tapi yang dasar dilupakan. Ibarat rumah atapnya dibangun dulu, pondasi belum jadi. Rumah apa itu? Rumah kurcaci. Belajar bahasa asing, Inggris, Mandarin, Jepang, padahal cebok belum bisa. Minta tolong dicebokin apa pakai bahasa Inggris? “Mama… help me.. wipe my ass.”

Apakah sekolah untuk kebutuhan anak? Kebanyakan sih sekolah itu untuk prestise orang tua. Apakah balita – kecuali tinggal di Inggris – butuh bahasa Inggris? Bahasa Inggris dianggap sebagai patokan kepintaran seseorang, padahal di Inggris tukang bersihin WC pun saya yakin mahir bahasa Inggris.

Jadi jelas kemampuan itu untuk ditunjuk-tunjukkan ke teman-teman orang tuanya. “Ayoo.. Adi, tunjukin Tante Ani kamu bisa bahasa Inggris… ” Lalu Adi bilang, “Fuck you!!” Dan Tante Ani masih bilang, “Anak pintar, bisa bahasa Inggris.”

Yang terjadi sekarang tidak ada bedanya dengan sirkus, sirkus anak. Seperti nonton sirkus, asik memang, orang-orangnya bisa salto. Tapi apakah orang itu waktu jalan di kehidupan sehari-hari sambil salto? Kita datang ke rumah teman kita yang bapaknya pemain sirkus. Ada bayangan cepat mengkelebat, lalu kita tanya, “Bro apaan itu?” Teman kita dengan santai bilang, “Ohh itu… bokap gua.”

Saya bukan bilang bhs Inggris itu nggak penting, tapi apa gak bisa nanti, kalau sudah agak besar. Mungkin terdengar menyesatkan, tapi  prinsip saya “apa yang bisa dikerjakan nanti, buat apa dikerjain sekarang.” Tundalah pekerjaan yang masih bisa ditunda, enjoy your life. Kalau nggak bisa ditunda ya kerjakan, saya setuju. Malah ada pekerjaan yang sebaiknya ditunda dulu, contohnya nikah. Tundalah pernikahan, karena emang belum ada calonnya. Dasar jomblo.

Ada beberapa anggapan yg kurang tepat dalam hal pendidikan. Misalnya, ada pendapat bahwa nggak baik ngomongin orang yg sudah meninggal. Kalau begitu kita nggak bisa dong ngomongin sejarah. Karena pelaku sejarah sudah pada meninggal. Sukarno, Suharto, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ken Arok semua sudah meninggal. Apakah ketika guru di sekolah bertanya, “Coba Zetra jelaskan tentang Gajah Mada?” Saya bisa menjawab jawab, “Ahhh Ibu, jangan bicarain orang yg sudah meninggal dong, Bu.”

Pendidikan yg terbaik salah satunya adalah di Finlandia. Dan di sana nggak ada PR. Di kita jangankan PR, anak-anak malah masih ikut les macam-macam. Tapi apakah kita lebih maju dari Finlandia yg jadi salah satu leader di Industri telekomunikasi, di balapan mobil F1. Pembalap F1 yg jadi juara banyak dari Finland, misalnya saja: Mika Hakinen, Kimmi Raykonen. Karena mungkin mereka nyetirnya fokus nggak sambil mikirin PR. Kalau kita dulu juga pernah ikutan A1 tapi sering gagal finish, nabrak tembok. Mungkin dia nabrak karena nggak konsen, pusing mikirin PR. Putus asa jadi pembalap dan masuk partai untuk ikut-ikutan jadi caleg. Ayo siapa, ayoo, tebak!

Di Finlandia tidak ada orang tua yang basa-basi sama anaknya, “Kamu sudah ngerjain PR!” karena akan dijawab anaknya seperti ini, “Papa, kita hidup di Finlandia, kita negara maju … walau tanpa PR.” Mungkin saja terjadi.

Sistem pendidikan di Finlandia tidak berubah dalam 40 tahun terakhir. Di kita, setiap ganti menteri, ganti sistem. Kadang-kadang yang diganti pun tidak jelas. Contoh saja, dulu SD kelas 1-6, SMP kelas 1-3, SMA kelas 1-3, sekarang disatukan kelas 1-12, tapi prakteknya tidak berubah, hanya penamaan jenjang saja yang berubah. Apa alasannya karena menteri dulu tidak bisa berhitung sampai 12 lalu menteri yang sekarang bisa berhitung sampai 12. Sungguh mengherankan *geleng-geleng*.

Sangkin padatnya jadwal anak-anak, jangan-jangan orang tua mau ketemu anaknya sendiri nanti harus bikin janji. “Bapak mau bicara dengan kamu!” Anaknya lalu bilang, “Sudah buat janji?”

Saya sedikit menyesal menulis artikel ini, terutama tentang sistem pendidikan di Finlandia. Saya takut anggota DPR terilhami, untuk studi banding ke sana. “Boss, sistem pendidikan di Finlandia bagus, berangkat kita….” kata seorang anggota DPR.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: